Percakapan Tengah Malam

1/15/2016

Suatu malam, sekitar pertengahan September tahun lalu, tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba dari handphone saya muncul id caller yang tidak pernah saya sangka akan muncul lagi, seorang teman lama yang hampir tidak pernah terdengar kabarnya, ada apa gerangan? Kabar apa yang kira-kira akan disampaikan, kabar baikkah atau malah kabar buruk? Saya cukup kaget pada waktu itu, kok tidak biasanya dia menghubungi saya. Kalau mengingat beberapa tahun lalu sampai sekarang pun, hampir tidak pernah dia menghubungi saya duluan, biasanya saya yang berinisiatif untuk menghubunginya pertama, sekedar bertanya tugas ataupun cuma sekedar saying hello. Karena dia tahu saya bukan tipe orang yang senang berbicara via telepon, kecuali kalau betul-betul perlu.
Pikiran-pikiran buruk lebih banyak muncul di kepala saya. Atau jangan-jangan dia mau menyapaikan berita bahagia, seperti berita pernikahannya mungkin. Mengingat handphone saya yang masih terus begetar minta di angkat, maka dengan segera saya memencet tombol hijau yang ada di handphone dan mengucapkan salam. Dari nada pertama yang dia ucapkannya, sepertinya ini bukan kabar buruk. Saya cukup bersyukur kala itu.

Kami mulai bercerita banyak hal, mulai dari dia bertanya bagaimana kabar keluarga saya sekarang, kegiatan-kegiatan apa yang saya lakukan, sampai rencana-rencana saya kedepannya. Ya, pembicaraan kami lebih banyak diisi dengan hal-hal tentang saya, sedangkan dia lebih banyak bertanya. Karena saya merasa, kok ini seperti pembicaraan satu arah yah dan terkesan seperti wawancara, dia bertanya dan saya menjawab. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bertanya hal yang sama setiap kali saya selesai menjawab pertanyaannya.

Hampir satu jam kami berbicara via handphone dan saya merasa sepertinya masih ada yang janggal dengan pembicaraan kami, seperti masih ada pertanyaan inti yang belum dia utarakan. Karena telinga saya mulai panas dan mata saya yang sudah seperti cahaya lampu lima watt, saya sempat bercerita mengenai isi pikiran dan kewas-wasan saya di awal dia menelpon, saya sempat memberitahu hal-hal negatif yang sempat melintas di pikiran saya terkait alasan dia tiba-tiba menelpon. Saya agak sedikit khawatir sebenarnya karena beberapa waktu sebelumnya, saya bermimpi buruk tentangnya. Dia hanya tertawa dan mengatakan, “just want to know what you are doing right know” Tapi saya masih tidak percaya dengan jawabannya.
Tidak beberapa lama setelah itu, mungkin dia mulai merasa pembicaraan kami tidak kemana-mana hanya berputar tentang kegiatan sehari-hari atau sekedar mengingat masa-masa lalu, tiba-tiba dia bertanya satu hal yang (mungkin) dia tahu sendiri jawabannya jika bertanya hal tersebut kepada saya.
Kamu tidak tertarik pacaran, Chi?” Saya hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaannya. Sepertinya ini inti alasan dia menelpon.
“Tidak” jawabku tegas dan tanpa jeda waktu dari pertanyaan awalnya. “Tidak, hingga waktu yang tepat.”

Saya cukup mengenal pribadinya, juga mengenal bagaimana keluarganya. Hal itu sudah cukup untuk mengetahui kegundah gulanaannya. Saya pun terkadang merasakan hal yang sama, tapi cuma kdang-kadang. Berada di lingkungan yang sangat mendukung terjadinya hal-hal seperti itu memang sangat meresahkan. Kadang merasa iri juga dengan teman-teman yang kalau ke mana-mana ada yang menemani, ada yang bisa diajak ngobrol setiap saat, dan ada yang bisa dimintai bantuan. Tapi, kalau mengingat lagi mudharat-mudharat yang disebabkan pacaran, saya merasa takut. Toh, Tuhan punya janji yang indah bagi orang-orang yang menjaga dirinya hingga waktu yang ditentukan. Kalau memang berjodoh Tuhan pasti akan mempersatukan, bagaimanapun caranya, bahkan kalau tidak pacaran sekalipun. Hal itu sudah jelas hukumnya dalam Islam, bahkan saya tahu pasti dia paham mengenai itu. Tapi lagi-lagi jawaban saya sepertinya tidak membantu banyak baginya. Sepertinya bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan. Percakapan berakhir dengan saya yang tetap meyakinkan bahwa apapun masalahmu mintalah pada Dia sang pemberi keputusan terbaik.

Beberapa hari atau minggu setelah percakapan tengah malam itu, saya mendengar kabar bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan salah seorang seniornya. Ya sudahlah, dia cukup cerdas dan dewasa. Dia juga sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang menjadi pilihannya sekarang adalah apa yang akan dia pertanggungjawabkan kelak.

Semoga Allah selalu menjaganya.^^

You Might Also Like

8 comments

  1. Hai Uci, kutahu bahwa kamu tidak tertarik pacaran, namun cobalah berpacaran dengan kalimat. Di paragraf pertama, sepertinya 1 kalimat terlalu panjang. Atau mungkin tidak jelas, mana akhir kalimat, karena saya menemukan ada huruf kapital di tengah-tengah kalimat. Tak banyak kesalahan, tinggal merapikan paragraf pertama, menurut saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tengkyu, Bunda. Saya akan coba membaca ulang dan mencari yang belum benar.

      Delete
  2. Halo, Uchi. Semoga weekendnya menyenangkan :)

    Ada kata asing selain bahasa Indonesia yang tidak dicetak miring.

    Penggunaan kata depan 'di' dan 'ke' ada yang belum tepat.

    was-was ~ waswas. Tidak memakai tanda hubung.
    apapun ~ apa pun

    Ada beberapa kata yang tidak baku, seperti: menelpon - menelepon, mudharat - mudarat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uchi Fauziah18/01/2016, 21:12

      Tengkyu ilmunya Kaka Hajra, banyak ternyata yang belum saya tau mengenai EYD.

      Delete
  3. Mari baca kembali dan cek ricek kesalahan penulisan.

    ReplyDelete
  4. Hai Kak Uchi semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

    Handphone itu bukannya bahasa Inggris ya yang harus dicetak miring?

    Yukk saling koreksi kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uchi Fauziah18/01/2016, 21:14

      Makasih Kaka Wiwi, iya Ade' khilaf karena sudah merasa handphone adalah bagian dari BI. Biyaneyooo...

      Delete
  5. Hello Uchi,

    Sekedar mengingatkan saja untuk lebih memperhatikan penggunakan ungkapan asing seperti id caller yang mestinya dimiringkan.

    Saya suka ceritanya, sangat emosional hehe

    ReplyDelete