Tentangmu yang Tak Kutahu

2/03/2016

Aku sebenarnya tak mengenal sosokmu dengan pasti. Kau pergi pagi saat aku belum terjaga dan pulang ketika matahari telah lama meninggalkan peraduannya. Kita pun jarang menyisahkan waktu berdua hanya untuk menonton televisi ataupun sekedar mengobrol santai. Kita tinggal di bawah atap yang sama, tapi bersuapun sangat jarang. Yang setiap hari kutemui hanya seorang wanita dengan senyumnya yang menghangatkan. Aku tidak ingat, apakah kau juga punya senyum seperti sehangat itu?

Saat aku memutuskan melanjutkan sekolah ke pulau seberang, yang kulihat hanya wanita itu yang matanya berkaca-kaca sambil melepas kepergianku. Engkau hanya berdiri diam di samping mobilmu dengan kedua tangan di dalam saku celana panjangmu. Tiba saat berpamitan, kau juga ikut memelukku walaupun tanpa usapan di punggung dan kata-kata nasehat seperti yang wanita itu lontarkan.

Setiap akhir pekan, aku selalu menelpon ke rumah. Sekeder bertanya kabar dan hal-hal apa yang telah kulewatkan. Tak lupa juga kutanya kabar tentangmu. Ternyata kau masih sama seperti dulu. Aku heran, apakah kau punya begitu banyak stok energi sampai-sampai sangat jarang beristirahat di rumah? Bahkan saat hari liburpun kau masih tetap bekerja. Aku ingin khawatir, tapi hatiku berkata tidak perlu. Toh, sepertinya kau masih sehat-sehat saja.

Tiba saat kelulusanku, kau datang bersama dengan wanita pemilik senyum hangat itu. Tidak putus-putusnya kalimat syukur yang wanita itu lontarkan. Dan yang paling mengejutkan adalah kau tersenyum. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu, tapi kucoba untuk membalasnya. Entah kapan terakhir kali kulihat senyummu, apakah saat adikku lahir atau saat kita pindah ke rumah baru? Entahlah, aku lupa.

Lagi-lagi, saat aku mendapatkan tawaran kerja di kota yang berbeda dari tempat tinggalmu, ekspresimu masih sama saat melepas kepergianku untuk sekolah. Hanya saja, kali ini kau menambahkan kalimat nasehat seperti, “Hati-hati di kota orang, jangan lupa sholat.” Cuma itu. Sedikit perkembangan dari tahun-tahun sebelumnya, tapi menurutku itu sudah cukup.

Tahun berganti tahun, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Bersama seorang pemuda dari kota tempatku bekerja, aku datang ke rumahmu meminta restu. Kau dengan mudahnya mengiyakan tanpa banyak embel-embel. Dan tiba saat hari bahagiaku bersama pemuda itu, kulihat kau nampak muram. Apakah kau tidak suka aku menikah? Kucoba bertanya pada wanita yang selalu ada di sisimu itu, masih dengan senyum hangatnya dia menjawab, ”Tidak usah dipikirkan.” Aku berusaha mengamati wajahmu, walaupun ada senyum di sana tetap saja ada gurat kesedihan yang terpancar. Semakin kuamati wajahmu yang mulai keriput itu, semakin aku sadar bahwa umurmu tak lagi muda. Badanmu tak sekokoh dulu. Kini kau nampak kurusan. Kenapa aku baru sadar sekarang?

Suatu hari aku mencoba mendatangi rumahmu. Tapi, yang kutemukan hanya pembantumu yang mengabarkan keberadaanmu. Dengan perasaan panik yang tidak biasa, aku melajukan kendaraanku ke tempat keberadaanmu. Tak berselang beberapa lama, aku mendapati wanita yang biasanya terlihat dengan senyum hangatnya kini berlinang air mata. Kucoba bertanya dan akhirnya kutemukan jawabannya. Aku tahu, kondisi kesehatanmu kurang baik akhir-akhir ini, tapi aku tak pernah berpikir bahwa sudah separah ini. Aku sedih. Benar-benar sedih kali ini.

Saat menunggumu yang sedang bertarung nyawa di dalam sana, wanita dengan senyum hangatnya itu mulai bercerita tentangmu, kau yang setiap malam saat aku terlelap, bertanya tentang apa yang aku dan adik-adikku lakukan seharian, memastikan apakah aku mengerjakan PR dengan benar, dan tak lupa mencium kening kami satu per satu. Sesaat sebelum mengantar kepergianku untuk sekolah ke pulau seberang, kau bersedih semalaman, kau memberitahu wanita dengan senyum hangat itu banyak nasehat unutk dismpaikan kepadaku. Kau tak ingin terlihat lemah di depanku, katanya. Saat tiba hari kelulusanku, kaulah yang paling bahagia, kau mengabarkan kepada seluruh keluarga dan tetangga bahwa betapa bangganya dirimu. Terlebih lagi saat aku mendapatkan tawaran pekerjaan, walaupun kau sempat sedih karena belum puas melepas rindu denganku, kau tetap melepasku dengan bangga. Dan ketika ada seorang pria yang datang memintaku, kaulah yang paling risau, kau mencemaskan hal-hal yang bahkan menurutku tidak masuk akal.

Wanita itu semakin semangat bercerita tentangmu, tentang rasa khawatirmu, tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi saat aku jauh dari kalian. Tapi, pikiranku sudah tak di situ, tak kutangkap lagi apa yang wanita itu katakan. Yang ada di benakku saat ini adalah, semoga kau baik-baik saja. Semoga Tuhan masih memberiku kesempatan.

Aku menunggumu di sini…Ayah




Sumber foto: google.com

You Might Also Like

0 comments