Masihkah Kita Merindukan Ramadhan

7/01/2016


Tak terasa Ramadhan akan berlalu, dalam hitungan hari Ramadhan akan pergi, bagaimana perasaan kita, bersedihka atau malah berbahagia? Apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan sudah maksimal? Bagaimana kabarnya sholat-sholat, puasa, sedekah, zakat, tadarrus quran kita? Sudahkah kita mencontoh Rasulullah yang memusatkan seluruh panca inderanya untuk beribadah di bulan suci ini, atau kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban belaka?

Suatu malam di awal Ramadhan, saat ingin berangkat ke masjid, saya bertemu dengan salah satu tetangga saya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Saya bertanya kenapa dia tidak ke masjid, dengan entengnya dia menjawab dia malas. Saat saya dan kawan-kawan dekat rumah berusia sekitar anak itu, bulan Ramadhan menjadi salah satu momen yang selalu ditunggu-tunggu. Apakah itu karena masjid menjadi tempat reuni teman-teman lama atau sekedar menanti tanda tangan penceramah untuk tugas Amalia Ramadhan.

Hilangnya keantusiasan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, padahal Tuhan menjanjikan pengampunan dosa dan pemberian pahala berlipat ganda, tapi kita masih ogah-ogahan melaksanakan ibadah. Tanyakan pada hati kita masing-masing, masihkah ada getaran-getaran saat nama Tuhan disebut, saat mengumandangkan shalawat kepada Rasulullah, masihka hati kita bergetar? Atau kosong, hampa, seakan-akan hati ini telah mengeras. Shaf-shaf yang selalu melebihi muatan di tahun-tahun sebelumnya kini tak ada lagi. Bahkan di awal Ramadhan sekalipun, shaf-shaf sholat tidak lagi terisi penuh. Kita berkata rindu padanya, tapi bagaimana sikap seseorang yang benar-benar merindu?

Kekosongan batin saat melaksanakan ibadah, sholat-sholat hanya sebagai kewajiban belaka, tadarrus quran hanya sekedar memenuhi target khatam tanpa sedikitpun mengerti maknanya. Puasa hanya sekedar menahan lapar dan dahaga tanpa mengerti hakekat sebenarnya. Sementara itu, di lain pihak kita begitu antusias menyambut potongan-potongan harga di pusat perbelanjaan. Sibuk membuat kue dan menghias rumah untuk persiapan lebaran. Sibuk mengatur jadwal buka puasa, hari ini bersama siapa besok bersama siapa, sampai mengabaikan ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan, dengan dalih “hanya sunnah.” Apa sebenarnya yang kita rindu kan?

Ramadhan tak ubahnya dengan bulan-bulan yang lain. Tidak ada yang ingin dikejar di dalamnya. Hati ini hanya berpura-pura merindukan Ramadhan. Berpura-pura menanti dengan suka cita. Tapi ternyata Tuhan memang Maha Tahu. Keluar dari Ramadhan kita tetaplah menjadi manusia yang tidak ada beda dengan sebelumnya, bahkan mungkin lebih buruk. Bukankah ini tanda bahwa kita tidak mendapatkan keistimewaan Ramadhan. Apakah dosa kita terampuni, apakah kita benar-benar terlahir suci kembali? Tanyakan pada diri kita sendiri.

Ramadhan, 26th 1437 H            



Sumber gambar: www.darussalaf.or.id

You Might Also Like

0 comments